Angka Penyakit Hati Meningkat, Temulawak Bisa Perbaiki Hingga Cegah Kerusakannya

banner 468x60

JAKARTA – Kesehatan hati di Indonesia perlu dijaga karena perubahan kondisi dunia modern, atau karena pasien banyak mengonsumsi obat-obatan yang dapat menyebabkan penyakit hati di kemudian hari.

Hal ini juga dilakukan oleh Dr. Tn. Raphael Aswin Susilowidodo, S.T., M.Si, CIP, IPU, Wakil Presiden R&D, Regulatory Medical Affairs SOHO Global Health. Gulir ke bawah untuk mengetahui semua detailnya.

Beratnya masalah ini ditandai dengan semakin tingginya angka kejadian penyakit liver di Indonesia. Penyebab utamanya adalah perlemakan hati yang mencapai 40 persen. Dr. Raphael saat presentasi dalam Perjalanan Temulawak (Curcuma xanthorrhiza) Menuju Kesehatan Nasional : Dari Seed to Patient yang diselenggarakan oleh SOHO Global Health di Jakarta, baru-baru ini.

Pada saat yang sama, Dr. (Terus terang.) Dr. Inggrid Tania, M.Si Ketua PDPOTJI (Asosiasi Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia) menjelaskan manfaat jahe yang luar biasa. Salah satunya dapat menjaga fungsi liver.

“Pengalaman masyarakat Indonesia telah mewariskan ilmu pengetahuan dari generasi ke generasi (Temulawak) yang memiliki banyak manfaat bagi kesehatan. Caranya meningkatkan kesehatan pencernaan, meningkatkan imunitas, meningkatkan nafsu makan dan menjaga fungsi liver,” jelasnya.

Dr Ingrid juga mengatakan bahwa selama epidemi, sebagian orang India juga mengonsumsi jahe sebagai stimulan kekebalan tubuh untuk memperkuat sistem kekebalan tubuh.

“Temulawak masuk dalam pedoman penggunaan jamu dan suplemen kesehatan untuk penanganan COVID-19 di Indonesia yang dikeluarkan BPOM RI,” ujarnya.

Temulawak juga terbukti meningkatkan berat badan pada anak. Sebab, menurut Inggrid, jahe mampu memperlancar pencernaan, mengoptimalkan aktivitas enzim pencernaan, serta memperlancar pencernaan dan penyerapan lemak di usus, sehingga kebutuhannya semakin meningkat.

“Dengan mencapai berat badan anak yang normal, kita dapat mengurangi risiko kerentanan,” yakinnya.

Saat itu, dokter spesialis paru, Dr. Fanny Fachrucha, Sp.P(K), jahe atau temulawak berperan sebagai hepatoprotektor pada pasien TBC (tuberkulosis).

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), lebih dari 1,5 juta orang akan meninggal karena TBC pada tahun 2020. Penyakit ini merupakan penyebab kematian nomor 13 dan penyebab kematian nomor dua. infeksi mematikan setelah COVID-19. .

“Indonesia kini menduduki peringkat kedua negara dengan angka TBC tertinggi di dunia. Penyakit ini bisa berakibat fatal bagi penderitanya jika tidak ditangani sejak dini. Padahal TBC adalah penyakit yang bisa diobati dan dicegah,” ujarnya.

Sama halnya dengan obat lain, obat TBC mempunyai efek samping, antara lain gangguan hati (isoniazid, rifampisin, pirazinamid).

“Dan pemberian obat hepatoprotektor seperti kurkumin yang terkandung dalam Curcuma xanthorrhiza dapat dipertimbangkan sebagai terapi tambahan pada pasien TBC,” ujarnya.

Sebab kandungan kurkumin pada jahe mempunyai efek hepatoprotektif sehingga membantu meningkatkan fungsi hati dan mencegah kerusakan hati, tambahnya.

Penelitian mengenai temulawak masih terus berkembang, diantaranya penelitian tentang kombinasi kurkumin dan piperin, penambahan piperin dapat meningkatkan penyerapan dan bioavailabilitas kurkumin hingga 2.000 persen.

“Peningkatan bioavailabilitas ini meningkatkan potensi curcuma sebagai hepatoprotektor,” kata Dr. Fanny. Di Indonesia telah ditemukan 6 kasus Mycoplasma Pneumoniae dan terkonfirmasi sejak Oktober 2023. Kasus pneumonia atau radang paru-paru yang disebabkan oleh bakteri Mycoplasma Pneumoniae dipastikan masih ada di Indonesia. Kementerian Kesehatan mencatat enam kasus. goseo.id.co.id 6 Desember 2023

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *