Hidung Berair Jadi Gejala Dominan COVID-19 Subvarian JN.1 di Eropa

banner 468x60

Liputan6.com, Jakarta – Epidemiolog Dicky Budiman memberikan informasi terkini mengenai subvarian COVID-19 JN.1. Menurutnya, subvarian Omicron ini menunjukkan beberapa gejala dominan yang tidak sama dengan COVID-19 sebelumnya.

“Di sini saya memperbarui subvarian JN.1 COVID-19, berdasarkan data dari kasus terkini pasien COVID-19 yang terinfeksi JN.1 di Eropa, khususnya di Inggris.” kata Dicky kepada Health Liputan6.com melalui Voicemail, Rabu (3/1/2023).

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Selain pilek, gejala lain yang dialami pasien COVID-19 JN.1 di Eropa adalah: Batuk dalam waktu yang relatif lama Kelelahan, Sakit kepala, Nyeri, Sulit tidur.

“Demam sangat jarang terjadi saat ini bagi sebagian besar pasien, terutama karena kehilangan penciuman sangat jarang terjadi, sekitar 3 persen.”

“Ini menunjukkan bahwa evolusi infeksi COVID-19 sebenarnya telah berpindah dari fase ringan ke fase akut.” Namun di sisi lain, dalam konteks COVID jangka panjang, penyakit ini menjadi lebih kuat pada orang yang memiliki masalah imunitas,” ujarnya.

Orang dengan gangguan imunitas yang dimaksud Dicky antara lain adalah orang yang belum divaksin saat terinfeksi, mengalami infeksi berulang, atau mengalami gangguan imun akibat penyakit penyerta yang serius.

Seringkali hal ini berakhir dengan kecenderungan gejala COVID yang berkepanjangan, kata Dicky.

Oleh karena itu, lanjut Dicky, vaksinasi booster sangat penting untuk menjaga keberlanjutan perlindungan bagi kelompok rentan.

“Dosis booster melindungi dari kerusakan, keparahan, Covid yang berkepanjangan, dan kematian.

Meski demikian, Dicky mengingatkan kita untuk tidak berpuas diri dengan vaksin yang ada saat ini. Sebab efektivitas vaksin terhadap varian baru bisa saja menurun.

“Jangan berpuas diri, karena ancaman berikutnya bukan tidak mungkin terjadi akibat evolusi dan mutasi virus ini. Kemungkinan besar vaksin yang ada saat ini akan berkurang dalam dua, tiga, lima tahun ke depan. .Oleh karena itu, penelitian Haus Vaccine menjadi sangat penting, jelas Dicky.

Meski vaksinasi dinilai sangat penting, Dicky tidak memungkiri bahwa ini bukanlah satu-satunya solusi.

“Pembicaraan vaksin tetap penting, tapi yang kedua, kita juga harus menekankan kepada masyarakat dan pemerintah juga harus memahami bahwa vaksin bukanlah satu-satunya solusi.”

Oleh karena itu, (PHBS) adalah perilaku hidup bersih dan sehat, 5M (mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak, menghindari orang, mengurangi mobilitas), meningkatkan kualitas udara dengan ventilasi yang baik dan menyebarkan yang penting, jelas Dicky.

Di sisi lain, lanjutnya, vaksin juga harus diimbangi dengan percepatan mutasi atau perubahan karakter virus, sehingga penelitian dan pengembangan vaksin dinilai sangat penting.

Dicky juga mengatakan penggunaan vaksin dalam negeri harus diprioritaskan dibandingkan vaksin buatan luar negeri.

“Saya rekomendasikan prioritas penggunaan vaksin dalam negeri yang kita perjuangkan. Termasuk Indovac,” saran Dicky.

Rekomendasi ini dibuat karena diyakini akan ada manfaat dari penggunaan vaksin rumahan. Selain mampu mengurangi penggunaan vaksin asing, juga dapat mendukung produksi dalam negeri, termasuk penelitian vaksin di Indonesia.

Seperti yang disampaikan Dicky sebelumnya, dengan berkembangnya penelitian, vaksin dapat mengimbangi percepatan mutasi virus.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *