Jamu Itu Tidak Sama dengan Obat Fitofarmaka, Perbedaannya?

banner 468x60

Liputan6.com, Jakarta Jamu merupakan campuran yang berasal dari tumbuh-tumbuhan atau tumbuhan yang kemudian diolah dan dikonsumsi karena dipercaya dapat meningkatkan kesehatan manusia. Sedangkan obat herbal ada yang berasal dari bahan alami, namun telah melalui penelitian ekstensif.

“Masih membingungkan masyarakat Indonesia karena sebenarnya masyarakat masih belum sepenuhnya memahaminya,” kata Kepala Bagian Farmasi RS Nasional, Dr. Chipto Mangunkusumo, Dr.Koresponden. Rina Mutiara, M.Pharm, dikutip Antara.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

“Masyarakat mengira jamu adalah obat, padahal dalam dunia medis ada perbedaan mendasar antara jamu dan jamu,” kata Rina dalam diskusi online, Senin, 4 Desember 2023.

Ryna menjelaskan, pengobatan herbal biasanya berdasarkan resep yang diturunkan dari generasi ke generasi. Tidak perlu penelitian dan uji klinis untuk membuat obat herbal.

Berbeda dengan fitofarmaka. Berasal dari bahasa Yunani, fito berarti tumbuhan dan pharmakon berarti obat.

Fitofarmaka adalah obat alami yang keamanan dan efektivitasnya telah dibuktikan secara ilmiah melalui uji praklinis dan klinis, bahan baku, dan produk jadi yang terstandar.

Namun, Reena mengatakan penggunaan fitofarmaka tetap dapat mempertimbangkan aspek sosial dan budaya, termasuk kepercayaan lokal dan praktik tradisional.

Rina mengatakan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) hingga saat ini telah merilis 24 jenis fitofarmaka di Indonesia.

Di Indonesia terdapat obat fitofarmaka: obat imunomodulator, obat tukak lambung, obat antidiabetik untuk menurunkan gula darah, obat antihipertensi untuk menurunkan tekanan darah, obat melancarkan peredaran darah untuk mencegah penyumbatan pembuluh darah, obat penambah albumin untuk pasien yang membutuhkan protein, seperti hemodialisis/pencucian darah pasien.

Penggunaan fitofarmaka di Indonesia, lanjut Rina, harus memenuhi standarisasi dan mutu yang bergantung pada asal tanaman, cara pengolahan, dan formulasi.

Kemudian fitofarmaka mempunyai permasalahan terkait dengan pencarian bahan baku yang berkualitas, terutama dari segi kestabilan kandungan zat aktif dan pengurangan pengotor.

“Fitofarmasi seringkali diproduksi dalam bentuk tradisional dan konsistensi produk dapat menjadi masalah. Hal ini perlu diatasi dengan standarisasi proses manufaktur untuk menjamin efisiensi dan keamanan,” ujarnya.

Rina menambahkan, interaksi fitofarmaka dengan obat tradisional seringkali belum dipahami sepenuhnya. Pada umumnya pasien menggunakan lebih dari satu jenis obat, sehingga risiko interaksi obat antara obat herbal dan obat konvensional harus dipahami dengan baik.

“Tantangan terbesarnya adalah regulasi, standardisasi, dan keamanan. Diperlukan aturan yang jelas untuk mengatur produksi, distribusi dan penggunaan fitofarmaka. “Mungkin tidak sepenuhnya menggantikan terapi konvensional, tapi bisa menjadi masalah, terutama pada kasus penyakit kronis atau serius,” kata Rina mengakhiri penjelasannya.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *