Kisah Si Bayi Jenius Kenneth, Ternyata Sering Dibacakan Buku Sejak Dini

banner 468x60

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Seorang bayi bernama Kenneth Matthew berhasil memukau netizen dengan kecerdasannya yang luar biasa. Meski usia Kenneth baru 21 bulan, ia sudah bisa membaca dan mengidentifikasi planet-planet di tata surya.

Keterampilan membaca dan matematika Kenneth dibagikan oleh orang tuanya Kevin Immanuel dan akun TikTok milik Chika @imchika21. Dalam beberapa video yang diposting Kevin dan Chika, terlihat Kenneth mampu menjawab soal matematika sederhana, memahami pola geometris, membaca dan mengidentifikasi bagian tubuh.

Selain netizen, orang tua Kenneth juga kaget melihat kecerdasan anaknya. Salah satunya ketika Kenneth mengingat urutan proses pencernaan di dalam tubuh.

Tampaknya Kenneth mendapat informasi mengenai rangkaian latihan pencernaan dari buku fisik yang sedang dibaca Chika. Salah satu yang dibahas dalam buku tersebut adalah alur proses pencernaan mulai dari masuk mulut hingga keluar anus.

“Saat usia 1 tahun 4 bulan, dia sedang makan dan saya bilang ‘makanan masuk ke mulutnya’. Lalu tiba-tiba dia berkata lagi: ‘lalu kerongkongan, lalu perut’, saya kaget.” kata Chika dalam laporan yang dibagikan kepada Denny Sumargo dari channel YouTube CURHAT BANG, Senin (27/11/23).

Terkait kesejahteraan Kenneth, Chika mengatakan, dirinya dan suaminya rutin memeriksakan suntikan Kenneth di rumah sakit. Di rumah sakit, dokter anak akan memantau tumbuh kembang Kenneth.

“Nilainya juga dicek di sana, biasa saja, dia punya skill lebih dari yang lain karena dia cepat fokus dan cepat mengambil,” kata Chika.

Berdasarkan saran dokter, Chika mengatakan bayinya akan mirip dengan Kenneth. Namun, hal ini bergantung pada sifat makanan dan dorongan yang diberikan orang tua kepada anak setelah 1.000 hari pertama kehidupannya. Contohnya adalah membacakan buku untuk Anda, bukan memberi ceramah.

Meski banyak yang menyebut anaknya jenius, namun Chika mengaku masih belum jelas. Menurut Chika, pemeriksaan tersebut bisa dilakukan saat anak mencapai usia 2,5 tahun.

“Bagaimana saya tahu minat dan bakatnya di mana,” kata Chika.

Membaca dan literasi anak usia dini

Membacakan buku untuk anak merupakan kegiatan yang menyenangkan bagi orang tua. Sebab, manfaat metode ini lebih dari sekadar meningkatkan kemampuan membaca anak.

Menurut Laura Phillips PsyD, direktur eksekutif Pusat Pembelajaran dan Perkembangan di Child Psychiatry Center, kemampuan berbahasa anak mulai berkembang sejak lahir. Paparan terus-menerus terhadap model bahasa yang berbeda berkontribusi pada pengembangan keterampilan bahasa mereka.

“Mengekspos kata-kata adalah salah satu hal terpenting yang dapat Anda lakukan untuk membantu membangun jalur bahasa di otak anak Anda,” kata Dr. Phillips dari situs resmi Child Mind Institute.

Membacakan buku untuk bayi dan balita memaparkan mereka pada kata-kata dan membangun keterampilan bahasa dan kognitif mereka. Padahal, memegang atau menyentuh buku saja sudah bisa membantu perkembangan kognitif bayi Anda.

“Buku memungkinkan kita mendengar kata-kata baru dan cara-cara baru dalam menyusun kata-kata menjadi kalimat,” kata Dr. Phillips.

Penelitian tersebut juga menemukan bahwa anak-anak yang orang tuanya sering membacakan buku sejak usia dini memiliki kosakata yang lebih banyak dibandingkan anak-anak lain ketika mereka memasuki taman kanak-kanak. Perbedaan kosakata antara anak yang membaca dan tidak membaca adalah 290 ribu kata.

Selain kemampuan berbahasa dan membaca, anak yang orang tuanya sering membacakan buku akan mengembangkan empati yang lebih baik. Kecintaan ini bisa tercipta karena buku memungkinkan kita memahami dunia dari sudut pandang yang berbeda.

Hebatnya lagi, membacakan buku untuk anak membantu anak mengelola emosinya dengan cara yang sehat. Mengingat karakter-karakter dalam buku tersebut, anak-anak lebih mudah mengungkapkan perasaannya kepada orang tuanya.

Berdasarkan penelitian “Cara mendidik anak usia dini”, tim peneliti menemukan bahwa kebiasaan membacakan buku pada anak erat kaitannya dengan pertumbuhan kecerdasan (IQ) anak. Tim peneliti juga menemukan bahwa skor IQ anak meningkat 6 poin jika orang tua aktif melibatkan anaknya dalam kegiatan membaca, dilansir laman resmi Children Learning Reading.

Selain itu, membacakan buku bersama anak dapat mempererat hubungan antara anak dan orang tua. Manfaatnya tidak akan didapat jika orang tua menggunakan teknologi seperti Alexa untuk membacakan buku untuk anaknya.

Pilih buku yang tepat

Menurut Dr. Phillips, membaca buku dapat bermanfaat bagi anak-anak segala usia. Namun, memilih buku yang tepat bisa memberikan manfaat lebih.

Untuk bayi baru lahir, Dr. Phillips mengatakan orang tua bisa membacakan apa saja untuk anaknya, bahkan cerita. Pasalnya, yang terpenting bagi anak usia ini adalah mendengarkan kata, kalimat, dan bahasa.

Seiring bertambahnya usia anak, orang tua bisa memilih buku yang temanya tidak jauh dari keseharian anak. Dengan demikian, buku dapat menjadi jembatan untuk menciptakan cerita dan percakapan dengan anak.

Orang tua juga bisa memberikan kesempatan pada anak untuk memilih buku yang disukainya. Ketika seorang anak membaca buku yang disukainya, ia menganggap membaca itu menyenangkan dan bermanfaat baginya.

“Wajar jika bayi dan balita ingin membaca buku yang sama,” kata Dr. Phillips.

Bahkan setelah anak mencapai literasi, tidak ada alasan bagi orang tua untuk berhenti membacakan buku untuk anaknya. Meski sudah bisa membaca, Dr. Phillips mengatakan anak-anak tetap menikmati saat orang tuanya membacakan untuk mereka.

Jika berbicara tentang format buku, banyak penelitian menunjukkan bahwa buku fisik memiliki manfaat lebih dibandingkan buku elektronik atau e-book. Penelitian menunjukkan bahwa interaksi antara anak dan orang tua lebih kuat ketika mereka membaca buku fisik atau cetakan.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *