Sebagian Besar Petani Indonesia Cuma Lulusan SD, Produktivitas Jadi Rendah

banner 468x60

Liputan6.com, Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan sebagian besar petani Indonesia hanya memiliki ijazah sekolah dasar (SD). Temuan tersebut berasal dari hasil Sensus Pertanian Tahap 1 tahun 2023. Sensus ini akan digunakan untuk memetakan tantangan sektor pertanian di Indonesia, salah satunya terkait produktivitas.

“Produktivitas sektor pertanian hanya sekitar seperenam produktivitas sektor pengolahan,” kata Plt. Kepala BPS Amalia Adinggar Widyasanti merilis hasil Sensus Pertanian Tahap 1 Tahun 2023 di Jakarta, Senin (4/11/2023).

Bacaan Lainnya
banner 300x250

“Salah satu penyebab rendahnya produktivitas sektor pertanian adalah sebagian besar pekerja pertanian hanya tamat pendidikan dasar, yakni sekitar 75% pekerja pertanian hanya tamat pendidikan dasar,” jelas Amalia.

Temuan BPS juga menunjukkan bahwa 58% tenaga kerja pertanian di Indonesia berusia 45 tahun ke atas. Hal ini berarti banyak pekerja pertanian yang semakin tua.

Oleh karena itu BPS mendorong regenerasi dunia pertanian.

“Ada kecenderungan pekerja di sektor pertanian cenderung mengalami penuaan, dan hal ini menjadi perhatian kita bersama bagaimana mendorong regenerasi tenaga kerja di sektor pertanian,” lanjut Amalia.

Selain itu, tingkat kesejahteraan petani Indonesia juga menjadi tantangan yang perlu diperhatikan.

Permasalahan ini disebabkan oleh kenaikan nominal upah yang tidak sesuai dengan tingkat kesejahteraan petani.

“Upah riil pekerja pertanian terus menurun. “Kalau dilihat dari nominal upah memang mengalami kenaikan, namun belum bisa menggambarkan secara tepat tingkat kesejahteraan petani,” jelas Amalia.

Sebelumnya, Bayu Krisnamurthi resmi menjabat sebagai General Manager Perum Bulog menggantikan Budi Waseso yang menjabat sebagai Direktur Utama dan Komisaris PT Semen Indonesia Tbk. Sebagai verifikator pertanian sekaligus Guru Besar IPB, Bayu Krisnamurthi berulang kali menyoroti pendapatan petani dan ketersediaan pangan di Tanah Air.

Dalam temu media Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) di Bandung, 23 November 2023, Bayu menyampaikan rata-rata pendapatan petani Indonesia masih sangat rendah. Nilainya hanya mencapai Rp 1 juta.

Bahkan, mantan Wakil Menteri Pertanian ini menyatakan pendapatan petani mayoritas berasal dari sumber di luar pertanian.

Pendapatan petani hanya Rp 1 juta per bulan sesuai UMP, dan petani saat ini 50 hingga 60 persen pendapatan keluarganya diperoleh dari luar kegiatan pertanian, kata Bayu, dikutip Sabtu (12/02/2023).

Usia petani juga mempengaruhi rendahnya pendapatan petani. Ia mencatat, rata-rata usia petani di atas 45 tahun dan sebagian besar pendidikan mereka hanya mencapai sekolah dasar (SD). Apalagi luas lahan pertanian per petani di Indonesia sangat terbatas yaitu 0,17 hektar.

“Ini luasnya sangat kecil, dan di luar pertanian hanya 0,12 hektar per penduduk Indonesia. Oleh karena itu, ini menjadi persoalan mendasar,” ujarnya.

Di sisi lain, Bayu yang juga mantan Wakil Menteri Perdagangan menilai jumlah petani di Indonesia terus mengalami penurunan dalam 10 tahun terakhir. “Ada pengurangan 5 juta (orang) jumlah petani kita,” ujarnya.

Oleh karena itu, Bayu menegaskan permasalahan ini harus segera diatasi. Ia juga mendorong pemerintah untuk lebih banyak berinvestasi di sektor pertanian. “Menurut saya, kita perlu lebih banyak berinvestasi di bidang pertanian di masa depan,” pintanya.

Pada tahun 2019, Bayu juga mengusulkan konsep swasembada pangan cerdas yang mendorong para pengusaha membuka lahan pertanian di luar negeri untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri.

“Secara pribadi saya ingin mengusulkan swasembada baru atau swasembada cerdas. Bagaimana kalau kita impor 100 ribu hektar tanaman padi ke Burma (Myanmar), tapi itu kita. Kenapa kita tidak ambil perusahaan di Vietnam, jadi agar kita menjadi pemain terbesar, mari kita atur perdagangannya,” ujarnya dikutip Antara.

Menurutnya, hal tersebut harus dilakukan karena sebagai negara tropis, Indonesia sangat rentan terhadap permasalahan pertanian seperti hama dan penyakit. Oleh karena itu, penting untuk memiliki persediaan cadangan.

Konsep ini juga perlu diterapkan, mengingat daya dukung Pulau Jawa sebagai lumbung padi nasional terus menurun. Dari sisi biaya, upaya intensifikasi pengolahan lahan juga dinilai sangat memberatkan. Oleh karena itu, konsep swasembada pangan cerdas yang diusungnya akan berdampak pada efektivitas biaya.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *